الوقت
Popular Posts
-
Judul Jurnal : Competitive Intelegence: Pengaruh Budaya Organisasi, Gaya kepemimpinan dan Kepercayaan Terhadap Komite Organisasi...
-
Judul Jurnal : Manajemen Penyelenggaraan Pendidikan Dan Pelatihan Balai Diklat Keagamaan Medan Penulis/Peneliti : Julianty Kasihati H...
-
Agama islam adalah agama yang sempurna dan paripurna yang mana didalamnya telah diajarkan cara-cara atau metode-metode pendidikan (tarbiy...
-
Menorehkan dakwah di Gunung Kelir, Jatimulyo, Girimulyo, Ku lon Progo (Sebuat catatan dakwah sabtu-ahad tugas dakwah Ma'had Aly...
-
Film ini mengangkat tema poligami dalam islam yang dibingkai dengan alur cerita yang cukup menarik dan disertai dengan beberapa konflik ya...
-
Wahai saudaraku… Hendaklah engkau buka hatimu sebelum engkau membuka bibirmu tuk membaca risalah ini, hendaknya engkau tajamkan kepekaan...
-
Jangan mengira bahwa orang yang memilih diam itu tidak mampu membalas. Karena terkadang seseorang memilih diam agar tak ada yang terluk...
-
[antara pemberi harapan palsu dan pemberi harapan pasti] Akhir-akhir ini kata PHP atau pemberi harapan palsu kian laris bak janan dipas...
-
Buku ini adalah buku yang sangat penting untuk dibaja terlebih bagi para aktifis organisasi Muhamadiyyah, yang mana dalam buku ini di s...
Lencana Facebook
Total Tayangan Halaman
Diberdayakan oleh Blogger.
Category List
Selasa, 15 Maret 2016
Mengapa terkadang perkataan, kisah-kisah ataupun nasehat para ulama’ dan guru lebih mengena dihati manusia dibandingkan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan sabda-sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam…? padahal Allah Ta’ala telah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS.Al-Anfal 2)
Maka dari itu jikalau kita tinjau dari segi keilmuan dan keimanana manusia dalam perkara membaca al-Quran dan juga membaca hadits-hadits Nabi, maka manusia itu terbagi menjadi empat golongan atau kelompok:
1. Berilmu dan beriman, seperti para sahabat mereka memahami dengan ilmu dan mengagungkan dengan iman.
2. Berilmu namun kurang dalam imannya, Yaitu orang yang mengetahui makna ayat dan memahaminya namun karena keimanan yang tidak kuat membuat hati tidak terefek oleh ayat-ayat atau mungkin terefek namun hanya sebentar.
3. Tidak berilmu namun beriman, tidak memahami dengan benar namun karena keimanan ia mengagungkan al-Quran.
4. Tidak berilmu dan tidak pula beriman, inilah golongan orang-orang munafik -semoga Allah melindungi kita dari sifat ini- mereka tidak memahami al-Quran dan jikalau mereka mempelajari mereka tidak meniatkan untuk menegakkan agama islam melainkan menghancurkan dan mengkeritik.
2. Berilmu namun kurang dalam imannya, Yaitu orang yang mengetahui makna ayat dan memahaminya namun karena keimanan yang tidak kuat membuat hati tidak terefek oleh ayat-ayat atau mungkin terefek namun hanya sebentar.
3. Tidak berilmu namun beriman, tidak memahami dengan benar namun karena keimanan ia mengagungkan al-Quran.
4. Tidak berilmu dan tidak pula beriman, inilah golongan orang-orang munafik -semoga Allah melindungi kita dari sifat ini- mereka tidak memahami al-Quran dan jikalau mereka mempelajari mereka tidak meniatkan untuk menegakkan agama islam melainkan menghancurkan dan mengkeritik.
Terlepas dari hal diatas disana juga ada beberapa faktor yang memiliki andil cukup besar dalam menyebabkan ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits NabiMungki karena beberapa faktor dibawah ini:
1. Tidak atau kurangnya keilmuan terutama dalam bahasa arab.
Kenapa bahasa arab? Karena bahasa arab adalah bahasa al-Quran itu sendiri.
Ada seorang salaf yang berkata: ”Aku heran dengan orang yang tidak memahami bahasa arab, bagaimana mungkin mereka bisa khusyu’ dalam shalat mereka”.
Namun bukan berarti memahami bahasa arab adalah satu-satunya cara agar dapat khusyu’ di dalam shalat masih ada hal-hal lain yang mendukungnya’ namun hanya saja memahami bahasa arab adalah sarana paling utama diantara sarana-saranya yang ada agar khusyu’ dalam shalat.
Kenapa bahasa arab? Karena bahasa arab adalah bahasa al-Quran itu sendiri.
Ada seorang salaf yang berkata: ”Aku heran dengan orang yang tidak memahami bahasa arab, bagaimana mungkin mereka bisa khusyu’ dalam shalat mereka”.
Namun bukan berarti memahami bahasa arab adalah satu-satunya cara agar dapat khusyu’ di dalam shalat masih ada hal-hal lain yang mendukungnya’ namun hanya saja memahami bahasa arab adalah sarana paling utama diantara sarana-saranya yang ada agar khusyu’ dalam shalat.
2. Kemaksiatan
Terkadang ada orang yang faham betul dengan sebuah ayat, bukan sekedar terjemahnya saja bahkan tafsirnya pun ia faham akan tetapi hal tersebut tidak memberikan atsar atau bekas di hatinya. Karena apa…? karena kemaksiatan yang ia perbuat yang mengalangi hatinya tuk mendalami makna-makna indah dalam ayat tersebut. Dan ini adalah problem yang dilanda oleh sebagian besar kaum muslimin terutama diri kita, semoga Alloh menjaga kita agar tidak tenggelam kedalam lumpur kemaksiatan.
Terkadang ada orang yang faham betul dengan sebuah ayat, bukan sekedar terjemahnya saja bahkan tafsirnya pun ia faham akan tetapi hal tersebut tidak memberikan atsar atau bekas di hatinya. Karena apa…? karena kemaksiatan yang ia perbuat yang mengalangi hatinya tuk mendalami makna-makna indah dalam ayat tersebut. Dan ini adalah problem yang dilanda oleh sebagian besar kaum muslimin terutama diri kita, semoga Alloh menjaga kita agar tidak tenggelam kedalam lumpur kemaksiatan.
3. Niat yang cacat
Sebagian orang tatkala belajar al-Quran dan hadits-hadits nabawiyyah mereka mamiliki niatan yang lain bukan niat ikhlas karena Allah Ta’ala, sehingga tidak menambah rasa takutnya kepada Allah dan apa-apa yang ia pelajari tidak membekas dihatianya.
Sebagian orang tatkala belajar al-Quran dan hadits-hadits nabawiyyah mereka mamiliki niatan yang lain bukan niat ikhlas karena Allah Ta’ala, sehingga tidak menambah rasa takutnya kepada Allah dan apa-apa yang ia pelajari tidak membekas dihatianya.
Penulis: Fatwa Hamidan
Label:
Renungan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar